Sekolahkan Anak di Sekolah Rakyat, Linda Tepis Stigma Masyarakat

1 month ago 9
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

INFO NASIONAL - Keberadaan Sekolah Rakyat mendapat stigma dari sebagian masyarakat yang belum mendapatkan informasi utuh. Karena itulah, Linda Martini ikut dipandang sebelah mata oleh para tetangga karena memutuskan pendidikan sang anak diteruskan ke Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Solok, Sumatera Barat.

“Masa anak berprestasi dimasukkan ke Sekolah Rakyat? Itu sekolah percobaan,” kata Linda menirukan ucapan tetangga dan kerabatnya di Jorong Muaro Busuak, Nagari Koto Hilalang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pandangan negatif tersebut tidak menggoyahkan Linda untuk meneruskan proses pendaftaran sang putri, Tita Martalita ke Sekolah Rakyat. Ia merasa jalan yang ditempuh bakal bermanfaat bagi masa depan anak ketiganya. “Biar kita dihina orang, asalkan anak maju,” ucapnya.

Jalur pendidikan dianggap menjadi pintu masuk keluarga Linda ke strata sosial yang lebih tinggi. Sebab, ayah Tita, Mardaus bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan rata-rata Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu per hari.

Saat tak ada pekerjaan, Mardaus dan Linda turun ke sungai untuk mengumpulkan batu, mendorong gerobak dari tepi sungai menuju jalan besar untuk dijual. Terkadang satu tumpukan batu harus menunggu berbulan-bulan hingga laku. 

Biaya hidup yang pas-pasan membuat Linda dan suami memprioritaskan pendidikan anak. Anak pertama mereka gagal kuliah karena biaya. Anak kedua bersekolah di pondok pesantren, yang bahkan Linda mengupayakan mengantar rantang makanan setiap hari untuk anak keduanya, untuk menghemat biaya.

Sedangkan Tita, sang anak ketiga dikenal rajin mengaji dan menghafal Alquran sejak usia empat tahun. Putaran nasib membawanya diterima di Sekolah Rakyat. Bagi Linda, pendidikan satu-satunya jalan agar Tita tidak mengulang siklus hidupnya.

“Anak saya jangan berakhir seperti saya. Saya cuma tamat SMP, bapaknya SD. Kalau kami tak mampu, biarlah anak kami yang membawa kami maju,” ujarnya.

Sejak lima bulan bersekolah di SRMP 5 Solok, banyak perubahan yang diamati sang ibu. Di rumah, Tita hanya mampu makan daging sapi atau ayam sebulan sekali. Di sekolah rakyat, Tita mendapat asupan bergizi setiap hari, tidur cukup, belajar teratur, dan tetap menjalankan ibadah dengan baik.

“Mana bisa kami kasih makan ayam tiap hari? Di sini Tita makan cukup. Istirahat cukup. Belajar cukup. Kami merasa sangat terbantu,” ucap Linda.

Stigma dan hinaan yang dulu begitu keras perlahan tak lagi berpengaruh. Linda telah melihat sendiri perubahan yang dialami putrinya. “Biar sekarang orang menghina. Mudah-mudahan besok orang menengok kami,” ujarnya lirih.

Tita bercita-cita menjadi dokter, sebuah impian yang tak pernah berani disebutkan Linda saat masih kecil, karena bagi keluarga mereka, kuliah adalah kemewahan.

“Terima kasih kepada Pak Prabowo. Orang miskin seperti kami bisa sekolah, bisa makan, bisa bermimpi. Terima kasih sudah membantu rakyat kecil,” kata dia. (*)

Read Entire Article